.

Minggu, 04 Juni 2017

Inflasi dan Kebijakan non Moneter Indonesia



@B24-DHICO
Oleh : Dhico Imtinan Setyowati

Abstrak
Inflasi adalah turunya nilai uang yang disebabkan jumlah uang yang beredar di masyarakat sangat banyak sehingga harga barang menjadi sangat mahah dan daya beli masyarakat terhadap barang /jasa menjadi menurun. Pengendalian inflasi sangat penting menjadi salah satu perhatian pemerintah karena beberapa alasan Pertama, inflasi memperburuk distribusi pendapatan (menjadi tidak seimbang). Kedua, inflasi menyebabkan berkurangnya tabungan domestik yang merupakan sumber dana investasi bagi negara-negara berkembang. Ketiga, inflasi mengakibatkan terjadinya defisit neraca perdagangan serta meningkatkan besarnya utang luar negeri. Keempat, inflasi dapat menimbulkan ketidakstabilan politik. Salah satu pengendalian yang dilakukan adalah dengan kebijakan non moneter.
Kata kunci : Inflasi, Kebijaakan non Moneter
Pendahuluan
Krisis moneter yang melanda Indonesia diawali dengan terdepresiasinya secara tajam nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing (terutama dolar Amerika), akibat adanya domino effect dari terdepresiasinya mata uang Thailand (bath), salah satunya telah mengakibatkan terjadinya lonjakan harga barang-barang yang diimpor Indonesia dari luar negeri. Lonjakan harga barang-barang impor ini, menyebabkan harga hampir semua barang yang dijual di dalam negeri meningkat baik secara langsung maupun secara tidak langsung, terutama pada barang yang memiliki kandungan barang impor yang tinggi. Karena gagal mengatasi krisis moneter dalam jangka waktu yang pendek, bahkan cenderung berlarut-larut, menyebabkan kenaikan tingkat harga terjadi secara umum dan semakin berlarut-larut. Akibatnya, angka inflasi nasional melonjak cukup tajam.
Jika melihat begitu dasyatnya pengaruh lonjakan angka inflasi di Indonesia (akibat dari imported inflation yang dipicu oleh terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing) terhadap perekonomian nasional, maka dirasa perlu untuk memberikan perhatian ekstra terhadap masalah inflasi ini dengan cara mencermati kembali apa yang dimaksud dengan inflasi dan salah satu penanganannya dengan menggunakan kebijakan non meneter.
Permasalahan
Dari pendahuluan diatas makan dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud Inflasi?
2.      Bagaimana perkembangan Inflasi di Indonesia?
3.      Bagaimana pengendalian Inflasi dengan kebijakan non meneter?
Pembahasan
Inflasi adalah turunya nilai uang yang disebabkan jumlah uang yang beredar di masyarakat sangat banyak sehingga harga barang menjadi sangat mahah dan daya beli masyarakat terhadap barang /jasa menjadi menurun.
Menurut Lerner (Gunawan,1995), inflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (excess demand) terhadap barang dan  jasa secara keseluruhan. Sedangkan menurut Sukirno (1998), inflasi merupakan suatu proses kenaikan harga-harga yang berlaku secara umum dalam suatu perekonomian. Sementara itu Mankiw (2000) menyatakan bahwa inflasi merupakan peningkatan dalam seluruh tingkat harga. Hampir semua negara, menjaga inflasi agar tetap rendah dan stabil adalah tugas bank sentral. Tingkat inflasi yang rendah dan stabil, akan tercipta  pertumbuhan ekonomi yang diharapkan, perluasan lapangan kerja, dan ketersediaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat .
Penggolongan Inflasi
Inflasi dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu menurut sifat, penyebab dan asal inflasi.
A.    Jenis inflasi menurut sifat
1.      Inflasi ringan (creeping inflation)
Inflasi ringan ditandai dengan laju inflasi yang rendah, biasanya bernilai satu digit per tahun (kurang dari 10%). Kenaikan harga pada jenis inflasi ini berjalan secara lambat, dengan persentase yang kecil serta dalam jangka yang relatif lama.
2.      Inflasi menengah (galloping inflation)
Inflasi menengah ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar (biasanya duoble digit, yaitu diantara 10% - < 30% per tahun) dan kadang-kala berjalan dalam waktu yang relatif pendek serta mempunyai sifat akselerasi. Artinya, harga-harga minggu/bulan ini lebih tinggi dari minggu / bulan lalu dan seterusnya.
3.      Inflasi tinggi (hyper inflation)
Inflasi tinggi merupakan inflasi yang paling parah akibatnya. Harga- harga naik sampai 5 atau 6 kali (lebih dari 30%). Masyarakat tidak lagi berkeinginan untuk menyimpan uang. Perputaran uang makin cepat, harga naik secara akselerasi (Nopirin, 1990).

B.     Jenis inflasi menurut sebab
1.      Demand – pull inflation
Demand pull inflation adalah inflasi yang terjadi karena adanya kenaikan permintaan agregat (agregate demand, AD), sedangkan produksi telah berada pada keadaan kesempatan kerja penuh atau hampir mendekati kesempatan kerja penuh. Adanya kelebihan permintaan inilah penyebab perubahan harga.
2.      Cost – push inflation
Cost – push inflation ditandai dengan kenaikan harga serta turunnya produksi. Keadaan ini timbul dimulai dengan adanya penurunan dalam penawaran agregat (aggregate supply, AS) sebagai akibat kenaikan biaya produksi.
3.      Mixed inflation
Inflasi campuran disebabkan karena adanya campuran antara inflasi tarikan permintaan dengan inflasi dorongan biaya.

C.     Jenis inflasi menurut asal
1.      Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation).
Inflasi ini dapat timbul antara lain karena defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan pencetakan uang baru ataupun terjadinya kegagalan panen.
2.      Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation)
Inflasi ini merupakan inflasi yang timbul karena kenaikan harga – harga (inflasi) di luar negeri atau di luar negara tersebut. Dalam hubungan ini pengaruh inflasi dari luar negeri ke dalam negeri dapat terjadi melalui kenaikan harga barang – barang impor maupun kenaikan harga barang – barang ekspor.
Perkembangan Inflasi di Indonesia
Seperti halnya yang terjadi pada negara-negara berkembang pada umumnya, fenomena inflasi di Indonesia masih menjadi satu dari berbagai “penyakit” ekonomi makro yang meresahkan pemerintah terlebih bagi masyarakat. Memang, menjelang akhir pemerintahan Orde Baru (sebelum krisis moneter) angka inflasi tahunan dapat ditekan sampai pada single digit, tetapi secara umum masih mengandung kerawanan jika dilihat dari seberapa besar prosentase kelompok masyarakat golongan miskin yang menderita akibat inflasi.
Sumber-sumber Inflasi di Indonesia
Apabila ditelaah lebih lanjut, terdapat beberapa faktor utama yang menjadi penyebab timbulnya inflasi di Indonesia, yaitu :
1.      Jumlah uang beredar
Kenaikkan jumlah uang beredar di Indonesiapada tahun 1970-an sampai awal tahun 1980-an lebih disebabkan oleh pertumbuhan kredit likuiditas dan defisit anggaran belanja pemerintah.
2.      Defisit Anggaran Belanja Pemerintah
Defisitnya anggaran belanja ini banyak kali disebabkan oleh hal-hal yang menyangkut ketegaran struktural ekonomi Indonesia, yang acapkali menimbulkan kesenjangan antara kemauan dan kemampuan untuk membangun.
3.      Faktor-faktor dalam Penawaran Agregat dan Luar Negeri
Kelambanan penyesuaian dari faktor-faktor penawaran agregat terhadap peningkatan permintaan agregat ini lebih banyak disebabkan oleh adanya hambatan-hambatan struktural (structural bottleneck) yang ada di Indonesia.
Pengendalian inflasi sangat penting menjadi salah satu perhatian pemerintah karena beberapa alasan Pertama, inflasi memperburuk distribusi pendapatan (menjadi tidak seimbang). Kedua, inflasi menyebabkan berkurangnya tabungan domestik yang merupakan sumber dana investasi bagi negara-negara berkembang. Ketiga, inflasi mengakibatkan terjadinya defisit neraca perdagangan serta meningkatkan besarnya utang luar negeri. Keempat, inflasi dapat menimbulkan ketidakstabilan politik.
Kebijakan non moneter adalah kebijakan yang tidak berhubungan dengan finansial pemerintah maupun jumla uang yang beredar, cara ini merupakan langkah alternatif untuk mengatasi inflasi. Kebijakan non moneter dapat dilakukan melalui instrument berikut:
1.      Mendorong agar pengusaha menaikkan hasil produksinya.
Cara ini cukup efektif mengingat inflasi disebabkan oleh kenaikan jumlah barang konsumsi tidak seimbang dengan jumlah uang yang beredar. Oleh karena itu pemerintah membuat prioritas produksi atau memberi bantuan (subsidi) kepada sektor produksi bahan bakar, produksi beras.

2.      Menekan tingkat upah.
Tidak lain merupakan upaya menstabilkan upah/gaji, dalam pengertian bahwa upah tidak sering dinaikan karena kenaikan yang relatif sering dilakukan akan dapat meningkatkan daya beli dan pada akhirnya akan meningkatkan permintaan terhadap barang-barang secara keseluruhan dan pada akhirnya akan menimbulkan inflasi.

3.      Pemerintah melakukan pengawasan harga dan sekaligus menetapkan harga maksimal.

4.      Pemerintah melakukan distribusi secara langsung.
Dimaksudkan agar harga tidak terjadi kenaikan, hal ini seperti yang dilakukan pemerintah dalam menetapkan harga tertinggi (harga eceran tertinggi/HET). Pengendalian harga yang baik tidak akan berhasil tanpa ada pengawasan. Pengawasan yang tidak baik biasanya akan menimbulkan pasar gelap. Untuk menghindari pasar gelap maka distribusi barang harus dapat dilakukan dengan lancar, seperti yang dilakukan pemerintah melalui Bulog atau KUD.

5.      Penanggulangan inflasi yang sangat parah (hyper inflation) ditempuh dengan cara melakukan sneering (pemotongan nilai mata uang).Sanering berasal dari bahasa Belanda yang berarti penyehatan, pembersihan, reorganisasi. Kebijakan sanering antara lain:
1.      Penurunan nilai uang
2.      Pembekuan sebagian simpanan pada bank – bank dengan ketentuan bahwa simpanan yang dibekukan akan diganti menjadi simpanan jangka panjang oleh pemerintah.
Senering ini pernah dilakukan oleh pemerintah pada tahun 1960-an pada saat inflasi mencapai 65%. Pemerintah memotong nilai mata uang pecahan Rp. 1.000,00 menjadi Rp. 1,00.
6.      Kebijakan yang berkaitan dengan output. Kenaikan output dapat memperkecil laju inflasi. Kenaikan jumlah output ini dapat dicapai misalnya dengan kebijakan penurunan bea masuk sehingga impor barang cenderung meningkat. Bertambahnya jumlah barang di dalam negeri cenderung menurunkan harga.

7.      Kebijakan penentuan harga dan indexing. Ini dilakukan dengan penentuan ceiling price.

8.      Devaluasi adalah penurunan nilai mata uang dalam negeri terhadap mata uang luar negeri. Jika hal tersebut terjadi biasanya pemerintah melakukan intervensi agar nilai mata uang dalam negeri tetap stabil. Istilah devaluasi lebih sering dikaitkan dengan menurunnya nilai uang satu negara terhadap nilai mata uang asing. Devaluasi juga merujuk kepada kebijakan pemerintah menurunkan nilai mata uang sendiri terhadap mata uang asing.
Kesimpulan
1.      Inflasi adalah turunya nilai uang yang disebabkan jumlah uang yang beredar di masyarakat sangat banyak sehingga harga barang menjadi sangat mahah dan daya beli masyarakat terhadap barang /jasa menjadi menurun.
2.      Inflasi dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu menurut sifat, penyebab dan asal inflasi.
3.      Sumber-sumber Inflasi di Indonesia
Apabila ditelaah lebih lanjut, terdapat beberapa faktor utama yang menjadi penyebab timbulnya inflasi di Indonesia, yaitu :
a.       Jumlah uang beredar
b.      Defisit Anggaran Belanja Pemerintah
c.       Faktor-faktor dalam Penawaran Agregat dan Luar Negeri
4.      Kebijakan non moneter adalah kebijakan yang tidak berhubungan dengan finansial pemerintah maupun jumla uang yang beredar, cara ini merupakan langkah alternatif untuk mengatasi inflasi.

Daftar Pustaka
Atmadja, S Adwin. 1999. Vol 1. No 1. Inflasi Di Indonesia :Sumber-Sumber Penyebab dan Pengendaliannya. http://www.tappdf.com/read/3197-inflasi-di-indonesia-sumber-sumber-penyebab-dan-pengendaliannya. (Diakses pada 2 Juni 2017).
Dristianto, Arga. 2012. Inflasi.  http://picatto.blogspot.co.id/2012/09/inflasi.html. (Diakses pada Juni 2017).
Wikandaru, Aditya. 2013. Inflasi. http://ayokitastudi.blogspot.co.id/2013/10/inflasi.html. (Diakses pada 2 Juni 2017).
Dania. 2010. Cara Mengatasi Terjadinya Inflasi. https://daneea.wordpress.com/2010/04/24/cara-mengatasi-terjadinya-inflasi/. (Diakses pada 2 Juni 2017).

Pengangguran Struktural

@A36-Josephine
oleh : Josephine Aurillia

Pengangguran struktural

(Menurut Informasipendidikan.com ) Pengangguran struktural merupakan jenis pengangguran yang terjadi akibat dari tenaga kerja yang tersedia tidak memenuhi persyaratan yang dibuat oleh lapangan kerja hal ini terjadi akibat dari perubahan teknologi yang semakin canggih atau dapat pula dikarenakan oleh perubahan kebijakan dari pemerintah, misalnya saja kebijakan pemerintah mengenai upah minimm regional terkadang tidak sesuai dengan harapan para tenaga kerja. Seperti yang kita semua tau bahwa masalah mengenai kebijakan upah minimum dilakukan oleh pemerintah daerah yang seringkali menimbulkan bentrok sera masalah ekoonomi yang berkepanjangan, misalnya saja kaum buruh yang memiliki masalah yang tak pernah ada titik terangnya, sehingga selalu terjadi demo buruh setiap tahunnya. Pengangguran yang terjadi juga dapat terjadi akibat dari adanya ketidakcocokan mendasar yang terjadi antara jumlah pekerja yang sedang mencari pekerjaan dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia (Menurut Informasipendidikan.com).

·         Penyebab Pengangguran
( Menurut Artikelsiana.com), Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa hal penyebab pengangguran dapat terjadi. Macam-macam penyebab pengangguran adalah sebagai berikut :
1.      Penduduk yang relatif banyak sedangkan lapangan kerja sedikit. Yang mengakibatkan, permintaan tenaga kerja berkurang. 
2.      Pendidikan dan keterampilan yang rendah sehingga tidak mampu bersaing dan tersisih. 
3.      Angkatan kerja yang tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang diminta oleh dunia kerja
4.      Teknologi yang semakin modern belum terimbangi oleh kemampuan 
5.      Pengusaha yang selalu mengejar keuntungan dengan cara melakakukan penghematan-penghematan, misalnya penerapan rasionalisasi. 
6.      Adanya lapangan kerja yang dipengaruhi oleh musim
7.      Terdapat ketidakstabilan perekonomian, politik, dan kemanan suatu negara ( Menurut Artikelsiana.com). 
8.      ( Menurut Fathoni, Ahmad ) Ketidakberhasilan sektor industri. Pola investasi yang ada cenderung padat modal menyebabkan semakin kecil terjadinya penyerapan tenaga kerja.
9.      Tidak ada kecocokkan upah, karena tidak semua perusahaan mampu dan bersedia mempekerjakan seorang pelamar dengan tingkat upah yang diminta pelamar.
10.  Tidak memiliki kemauan wirausaha. Orang yang tidak punya kemauan kerja tidak akan berusaha menciptakan lapangan kerja sehingga ia harus menunggu uluran tangan dari orang lain.
11.  Adanya diskriminasi ras, gender, orang cacat mengakibatkan timbulnya pengangguran ( menurut Fathoni, Ahmad).


·         ( Menurut Inge, 2011) Cara-cara mengatasi pengangguran
1. cara mengatasi pengangguran struktural
    a.
Pengadaan pendidikan dan pelatihan sebagai persiapan untuk berkarir pada pekerjaan yang baru.
    b.
Memindahkan tenaga kerja dari tempat yang tidak membutuhkan ke tempat yang membutuhkan.
    c.
Meningkatkan mobilitas tenaga kerja dan modal yang ada.
    d.
Mendirikan industri yang bersifat padat karya, sehingga mampu menampung tenaga kerja yang menganggur ( Menurut Inge, 2011).

Daftar pustaka
Informasipendidikan.com, 2016, Pengertian Pengangguran, dalam link http://www.informasi-pendidikan.com/2016/02/pengertian-pengangguran-friksional-dan.html (diunduh pada 2016).
Inge, 2011, Cara- Cara Mengatasi Pengangguran, dalam link http://inge-phobos.blogspot.co.id/2011/07/cara-cara-mengatasi-pengangguran.html (diunduh pada 16 Juli 2011).
Artikelsiana.com, 2015, Pengertian Pengangguran, dalam link http://www.artikelsiana.com/2015/08/pengangguran-pengertian-jenis-penyebab.html  (diunduh pada 2015).
Fathoni, Ahmad.  2014, Pengangguran, Jenis dan Penyebabnya. Dalam link http://www.zonasiswa.com/2014/12/pengangguran-pengertian-jenis-penyebab.html  (Diunduh pada 2014).

Pengertian Inflasi dan Deflasi

@A30-Tania
Oleh : Tania Iswara


ABSTRAK
Inflasi dan deflasi di dunia ekonomi modern sangat memberatkan masyarakat. Hal ini dikarenakan inflasi maupun deflasi dapat mengakibatkan lemahnya efisiensi dan produktifitas ekonomi investasi, kenaikan biaya modal, dan ketidakjelasan ongkos serta pendapatan di masa yang akan datang.
Keberadaan permasalahan inflasi dan deflasi serta tidak stabilnya sektor riil dari waktu ke waktu senantiasa menjadi perhatian sebuah rezim pemerintahan yang berkuasa serta otoritas moneter. Lebih dari itu, ada kecendrungan inflasi dan deflasi dipandang sebagai permasalahan yang senantiasa akan terjadi. Hal ini tercermin dari kebijakan otoritas moneter dalam menjaga tingkat inflasi maupun deflasi. Setiap tahunnya otoritas moneter senantiasa menargetkan bahwa angka atau tingkat inflasi harus diturunkan menjadi satu digit atau inflasi moderat.Fenomena deflasi di negara-negara maju membawa kekhawatiran tertentu terhadap kinerja perekonomian dunia. Jepang membuktikan, deflasi menyebabkan kredit macet raksasa di sektor perbankan.
Pengaruh inflasi cukup besar pada kehidupan ekonomi, begitu pula dengan deflasi. Inflasi dan Deflasi merupakan bagian dari masalah ekonomi yang banyak mendapat perhatian para ekonom, pemerintah, maupun masyarakat umum.

Kata Kunci : Pengertian Inflasi dan Deflasi

Pengertian Inflasi dan Deflasi

a.      Pengertian Inflasi

Pengertian Inflasi Menurut Para Ahli
1.      Menurut Silvia et al (2013), Salah satu indikator ekonomi yang digunakan untuk melihat/mengukur stabilitas perekonomian suatu negara adalah inflasi. Perubahan dalam indikator ini akan berdampak terhadap dinamika pertumbuhan ekonomi. Dalam perspektif ekonomi, inflasi merupakan fenomena moneter dalam suatu negara dimana naik turunnya inflasi cenderung mengakibatkan terjadinya gejolak ekonomi.
2.      Menurut Utomo (2013), Inflasi dapat didefinisikan sebagai proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian. Kenaikan satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan) kepada barang lain. Tingkat inflasi (presentase pertambahan kenaikan harga) berbeda dari suatu periode ke periode lainnya, dan berbeda pula dari satu negara ke negara lain kenaikan harga diakibatkan oleh banyak faktor.
3.      Menurut Veneris dan Sebol dalam Muana Nanga (2001:241) mendefinisikan inflasi sebagai suatu kecenderungan meningkatnya tingkat harga umum secara terus-menerus sepanjang waktu. Berdasarkan definisi tersebut, kenaikkan tingkat harga umum (general price level) yang terjadi sekali waktu saja, tidaklah dapat dikatakan sebagai inflasi.

Dari definisi tersebut ada tiga hal penting yang ditekankan dari inflasi, yaitu:
1.      Adanya kecenderungan harga-harga untuk meningkat, yang berarti bisa saja tingkat harga yang terjadi pada waktu tertentu turun atau naik dibandingkan dengan sebelumnya, tetapi tetap menunjukan tendensi yang meningkat.
2.      Bahwa kenaikkan tingkat harga tersebut berlangsung secara terus-menerus (sustained),yang berarti bukan hanya terjadi pada satu waktu saja, akan tetapi bisa beberapa waktu lamanya.
3.      Bahwa tingkat harga yang dimaksud disini adalah tingkat harga umum, yang berarti tingkat harga yang mengalami kenaikkan itu bukan hanya pada satu atau beberapa komoditi saja, akan tetapi untuk harga barang secara umum.

Jadi, Pengertian Inflasi adalah suatu proses atau peristiwa dalam perekonomian diakibatkan karena terganggunya keseimbangan antara arus uang dan arus barang atau suatu gejala yang dimana tingkat harga umum sedang mengalami kenaikan yang secara terus menerus. Apabila kenaikan yang terjadi hanya sekali walaupun persentasi yang cukup besar belum dapat dikatakan sebagai inflasi karena tidak memiliki pengaruh lanjutan, misalnya kenaikan harga-harga menjelangn bulan ramadhan atau pada hari besar lainnya hal tersebut belum dikatakan sebagai inflasi karena tidak memiliki pengaruh lebih lanjut. Kejadian seperti contoh tersebut diistilahkan sebagai kenaikan tingkat harga dan setiap peristiwa yang cenderung mendorong naiknya tingkat harga disebut sebagai gejolak inflasi. Sedangkan tingkat persentase kenaikan tingkat harga dan beberapa indeks harga dari suatu periode ke periode lain disebut denga laju inflasi.
Berikut adalah data inflasi dari oktober 2014 sampai bulan september 2015 yang diambil dari Laporan Inflasi (Indeks Harga Konsumen) berdasarkan perhitungan inflasi tahunan oleh Bank Sentral.

Gambar 1.1 Diagram data Inflasi
a.      Pengertian Deflasi
Deflasi didefinisikan sebagai meningkatnya permintaan terhadap uang berdasarkan jumlah uang yang berada di masyarakat. Deflasi terjadi ketika jumlah uang yang beredar di masyarakat (money supply) lebih sedikit dari jumlah supply barang yang ada. Sehingga terjadi penurunan harga-harga. Contoh  kenapa hal ini bisa terjadi dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari, harga barang-barang elektronik semakin hari semakin murah. Hal ini terjadi karena perkembangan tekhnologi yang cepat sehingga supply barang tekhnologi dipasaran semakin banyak. Sedangkan jumlah uang yang beredar di masyarakat sedikit, sehingga barang-barang tekhnologi tersebut jatuh harganya. Atau deflasi bisa terjadi ketika permintaan barang dari masyarakat semakin menurun dan permintaan uang (money demand) dari masyarakat meningkat.
      Deflasi juga berkaitan dengan nilai tukar rupiah. Dengan deflasi, mata uang kita mengalami apresiasi atau peningkatan. Dalam ilmu  ekonomi, deflasi diartikan sebagai suatu periode dimana harga-harga secara umum jatuh dan nilai uang bertambah. Deflasi adalah kebalikan dari inflasi. Salah satu cara menanggulangi deflasi adalah dengan menaikkan tingkat suku bunga.
Dalam ekonomi, deflasi (deflation) adalah suatu periode dimana harga-harga secara umum jatuh dan nilai uang bertambah. Deflasi adalah kebalikan dari inflasi. Bila inflasi terjadi akibat banyaknya jumlah uang yang beredar di masyarakat, maka deflasi terjadi karena kurangnya jumlah uang yang beredar, dimana cara menanggulanginya adalah dengan cara menurunkan tingkat suku bunga atau yang lebih sederhana (meski kadang tidak berhasil) adalah dengan mencetak lebih banyak uang.


Kesimpulan
Jika kita mengamati harga-harga barang atau jasa, tidak ada harga yang tetap atau konstan dari waktu ke waktu, bahkan cenderung naik. hal tersebut diakibatkan oleh ketidakseimbangan antara arus uang dan arus barang. dimana arus barang harus mengalir dari hasil produksi perusahaan kepasar barang dan bertemu dengan arus yang berasal dari pembelanjaan pemerintah dan rumah tangga atau konsumen

Daftar Pustaka
1.      Cahya, Maria. 2016. MAKALAH EKONOMI MAKRO : INFLASI DAN DEFLASI. http://mariamasihidup.blogspot.co.id/2015/02/makalah-ekonomi-makro-inflasi-dan.html (diakses 4 Juni 2017)
2.      Aprilia, Rifatin. 2016. Makalah Ekonomi Moneter. http://radjafamily.blogspot.co.id/2016/05/makalah-inflasi-dan-deflasi.html#.WTQRs9KGPIU  (diakses 4 Juni 2017)
3.      Sultan, Kanjeng. 2015. Makalah Inflasi dan Deflasi. http://gudang-makalahku.blogspot.co.id/2015/08/makalah-inflasi-dan-deflasi.html (diakses 4 Juni 2017)
4.      Nurizki. 2017. Inflasi & Deflasi. http://mazterchez.blogspot.co.id/2010/01/inflasi.html (diakses 4 Juni 2017)
5.      Sam, Hisam. 2016. Pengertian Inflasi dan Deflasi “dalam Ekonomi”. http://www.dosenpendidikan.com/pengertian-inflasi-dan-deflasi-dalam-ekonomi/ (diakses 4 Juni 2017)

Pengangguran KRONIS

OLEH @B33-ZAKI

PENGANGGURAN KRONIS

1.       PENGERTIAN PENGANGGURAN KRONIS
                Pengangguran kronis adalah pengangguran yang dimana sebagian angkatan kerja sama sekali tidak bekerja. Pengangguran ini termasuk kedalam jenis-jenis pengangguran yang terlihat ( visible unemployment ).