.

Minggu, 04 Juni 2017

Pengangguran

@B30-PUTRI
Pengangguran
Putri Ayu
ABSTRAK
Pengangguran merupakan salah satu hal yang sudah biasa terdengar di negara berkembang. Pengangguran terjadi karena berbagai macam faktor, salah satu faktor yang terjadi ialah kurangnya lapangan pekerjaan.

PENDAHULUAN

Pengangguran merupakan salah satu hal yang harus bisa ditanggulangi oleh pemerintahan, karena pengangguran hanya dapat meningkatkan angka kemiskinan dalam suatu negara, suatu negara dengan angka kemiskinan yang tinggi sangat berpengaruh dalam berbagai kegiatan antar suatu negara, salah satu contohnya ialah kegiatan impor maupun ekspor. Materi kali ini akan membahas apa itu pengangguran.

PERMASALAHAN
·         Apa definisi dari pengangguran?
·         Apa saja kategori seseorang dikatakan pengangguran?
·         Apa saja macam-macam pengangguran?
·         Apa saja faktor yang memengaruhi seseorang menjadi pengangguran?
·         Apa dampak pengangguran?

PEMBAHASAN
·         Apa definisi dari pengangguran?
Pengangguran adalah angkatan kerja yang tidak melakukan kegiatan kerja, atau sedang mencari pekerjaan atau bekerja secara tidak optimal

·         Apa saja kategori seseorang dikatakan pengangguran?
Seseorang dapat dikatakan sebagai pengangguran bila memenuhi salah satu kategori di bawah ini.
1.Sedang tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan.
2.Sedang mempersiapkan suatu usaha baru.
3.Tidak memiliki pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan (discourged worker).
4.Sudah mendapatkan pekerjaan tetapi belum bekerja.

·         Apa saja macam-macam pengangguran?
1.               Pengangguran Normal / Terbuka. Penggangguran normal adalah golongan angkatan kerja yang betul-betul tidak mendapatkan pekerjaan karena pendidikan dan keterampilan tidak memadai.
2.               Setengah Menganggur (Under Employment). Setengah menganggur terjadi apabila tenaga kerja tidak bekerja secara optimum karena ketiadaan lapangan kerja atau pekerjaan.
3.               Pengangguran Terselubung (Disguised Unemployment). Pengangguran terselubung terjadi apabila tenaga kerja tidak bekerja secara optimum karena tidak memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya.
4.               Pengangguran Friksional (Frictional Unemployment). Pengangguran friksional adalah pengangguran temporer yang terjadi karena pergantian pekerjaan atau pergeseran tenaga kerja. Pengangguran ini disebabkan karena seseorang tidak langsung menemukan pekerjaan baru setelah berhenti dari pekerjaan lamanya atau dihambat oleh keterbatasan mereka sendiri.
5.               Pengangguran Musiman (Seasonal Unemployment). Pengangguran musiman disebabkan oleh perubahan permintaan terhadap tenaga kerja yang sifatnya berkala. Pengangguran seperti ini biasa terjadi pada tenaga kerja paruh waktu (part time).
6.               Pengangguran Siklikal / Konjungtural (Cyclical Unemployment). Pengangguran siklikal berkaitan dengan naik-turunnya aktivitas atau keadaan perekonomian suatu negara (business cycle).
7.               Pengangguran Struktural (Structural Unemployment). Pengangguran ini muncul akibat perubahan struktur ekonomi, misalnya dari struktur agraris menjadi industri, sehingga banyak tenaga kerja yang tidak dapat mmenuhi syarat yang diminta perusahaan.
8.               Pengangguran Sukarela (Voluntary Unemployment). Pengangguran ini terjadi karena adanya orang yang sesungguhnya masih dapat bekerja, tetapi dengan sukarela dia tidak mau bekerja, karena mungkin sudah cukup dengan kekayaan yang dimiliki atau pekerjaannya diberikan kepada pegawai baru.
9.               Pengangguran Deflasioner (Deflationary Unemployment). Pengangguran deflasioner disebabkan lowongan pekerjaan tidak cukup untuk manampung seluruh pencari kerja.
10.           Pengangguran Teknologi. Pengangguran teknologi disebabkan karena kemajuan teknologi, yakni pergantian tenaga manusia dengan tenaga mesin.

·         Apa saja faktor yang memengaruhi seseorang menjadi pengangguran?
faktor – faktor yang mendorong timbulnya pengangguran adalah sebagai berikut :
–pencari kerja lebih besar dari jumlah peluang kerja yang tersedia (kesenjangan antara supply and demand).
–kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja.
– masih adanya anak putus sekolah dan lulus tidak melanjutkan yang tidak terserap dunia kerja/berusaha mandiri karena tidak memiliki keterampilan yang memadai.
– terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) karena krisis global.
– terbatasnya sumber daya alam di kota yang tidak memungkinkan lagi warga masyarakat untuk mengolah sumber daya alam menjadi mata pencaharian.

·         Apa dampak pengangguran?
1.            Terhadap pembangunan nasional
Ø  Menurunkan pendapatan nasional.
Ø  2.Menurunkan daya beli masyarakat.
Ø  3.Meningkatkan beban sosial.
Ø  4.Meningkatkan biaya hidup.
Ø  5.Mengurangi pajak yang diterima oleh pemerintah dan lain-lain.
2.            Terhadap masyarakat
§    Pengangguran dapat menghilangkan mata pencaharian
§    Pengangguran dapat menghilangkan ketrampilan
§    Pengangguran akan menimbulkan ketidakstabilan social politik.
§    Bertambahnya tingkat kemiskinan
§    Timbulnya kriminalitas di kalangan masyarakat
 PENUTUP

Dari Pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa pengangguran adalah angkatan kerja yang tidak melakukan kegiatan kerja, atau sedang mencari pekerjaan atau bekerja secara tidak optimal dan Seseorang dapat dikatakan sebagai pengangguran bila memenuhi salah satu kategori di bawah ini.
1.Sedang tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan.
2.Sedang mempersiapkan suatu usaha baru.
3.Tidak memiliki pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan (discourged worker).
4.Sudah mendapatkan pekerjaan tetapi belum bekerjae




DAFTAR PUSTAKA

anonim. 2017. Pengangguran dan Tunjangan Pengangguran di Indonesia. http://www.gajimu.com/main/pekerjaan-yanglayak/jaminan-sosial/pengangguran . gajimu.com Indonesia

anonim. 2017. Pengertian Pengangguran dan Macam – macam Pengangguran. https://pengertiandefinisi.com/pengertian-pengangguran-dan-macam-macam-pengangguran/ .


Inflasi dan Kebijakan Moneter

@A22-Tia


Oleh : Tia Afrilia


ABSTRAK
Inflasi adalah suatu keadaan perekonomian dimana harga-harga secara umum mengalami kenaikan dalam waktu yang panjang. Kebijakan moneter adalah proses mengatur persediaan uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu; seperti menahan inflasi, mencapai pekerja penuh atau lebih sejahtera.


PENDAHULUAN
Kebijakan moneter adalah semua tindakan atau upaya bank sentral untuk mempengaruhi perkembangan variabel moneter (uang beredar, suku bunga, kredit dan nilai tukar) untuk mencapai tujuan tertentu. Sebagai bagian dari kebijakan ekonomi makro, maka tujuan kebijakan moneter adalah untuk membantu mencapai sasaran-sasaran makroekonomi antara lain : pertumbuhan ekonomi, penyediaan lapangan kerja, stabilitas harga dan keseimbangan neraca pembayaran. Keempat sasaran tersebut merupakan tujuan akhir kebijakan moneter.
Idealnya, semua sasaran akhir kebijakan moneter tersebut dapat dicapai secara bersamaan dan berkelanjutan. Namun, pengalaman di banyak negara termasuk di Indonesia menunjukkan hal yang dimaksud sulit dicapai, bahkan ada kecenderungan bersifat kontradiktif. Misalnya kebijakan moneter yang kontraktif untuk menekan laju inflasi dapat berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan kesempatan kerja. Di samping itu, pengalaman empiris menunjukkan bahwa perekonomian memburuk karena kebijakan moneternya memiliki tujuan ganda (multiple objectives). Untuk alasan ini, mayoritas bank sentral termasuk BI fokus pada sasaran tunggal (single objective) yaitu mewujudkan dan memelihara kestabilan moneter (Ismail, 2006).


RUMUSAN MASALAH
1.      Apa Saja Jenis-Jenis Inflasi
2.      Penyebab Terjadinya Inflasi
3.      Bagaimanakah Kebijakan Moneter Mengatasi Inflasi Itu Sendiri
4.      Tujuan Kebijakan Moneter
5.      Bagaimana Peran dan Fungsi Kebijakan Moneter


PEMBAHASAN
1.      Jenis-Jenis Inflasi
Menururt Riessfelt (2016), Jenis-jenis inflasi atau macam-macam inflasi dapat dibedakan berdasarkan tingkat keparahan, sumber dan penyebabnya.
A.)   Jenis-Jenis Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahannya.
Berdasarkan tingkat keparahannya, inflasi dapat dibedakan atas ringan, sedang, berat, dan sangat berat.
1)      Inflasi ringan : Inflasi ringan adalah inflasi yang masih belum begitu mengganggu keadaan ekonomi. Inflasi ini dapat dengan mudah dikendalikan. Harga-harga yang naik secara umum, namun belum menimbulkan krisis di bidang ekonomi. Inflasi ringan berada di bawah 10% per tahun.
2)      Inflasi sedang : Inflasi ini belum membahayakan kegiatan ekonomi. Tetapi inflasi ini bisa menurunkan kesejahteraan orang-orang berpenghasilan tetap. Inflasi sedang berkisar antara 10%-30% per tahun.
3)      Inflasi berat : Inflasi ini sudah mengacaukan kondisi perekonomian. Pada inflasi berat ini, biasanya orang cenderung menyimpan barang. Dan pada umumnya orang mengurungkan niatnya untuk menabung, karena bunga pada tabungan lebih rendah daripada laju inflasi. Inflasi berat berkisar antara 30%-100% per tahun. 
4)      Inflasi sangat berat (Hyperinflation) : Inflasi jenis ini sudah mengacaukan kondisi perekonomian dan susah dikendalikan walaupun dengan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Inflasi yang sangat berat berada pada 100% keatas setiap tahun. 
B.)   Jenis-Jenis Inflasi Berdasarkan Sumbernya.
Berdasarkan sumbernya, inflasi dibedakan atas inflasi yang bersumber dari luar negeri dan inflasi yang bersumber dari dalam negeri.
1)      Inflasi yang bersumber dari luar negeri : Inflasi ini terjadi karena ada kenaikan harga di luar negeri. Pada perdagangan bebas, banyak negara yang saling berhubungan dalam perdagangan. Bila suatu negara mengimpor barang pada negara yang mengalami inflasi, maka otomatis kenaikan harga tersebut (inflasi) akan memengaruhi harga-harga dalam negerinya sehingga menimbulkan inflasi. Contoh, Indonesia banyak mengimpor barang-barang modal dari negara lain. Jika di negara itu harga barang-barang modal naik, maka kenaikannya itu akan turut berpengaruh di Indonesia sehingga menimbulkan inflasi.
2)      Inflasi yang bersumber dari dalam negeri : Inflasi yang bersumber dari dalam negeri dapat terjadi karena pencetakan uang baru oleh pemerintah atau penerapan anggaran defisit. Inflasi yang bersumber dari dalam negeri juga dapat terjadi karena kegagalan panen. Kegagalan panen menyebabkan penawaran pada suatu jenis barang berkurang, sedangkan permintaan tetap, sehingga harga-harga akan naik.
C.)   Jenis-Jenis Inflasi Berdasarkan Penyebabnya.
Berdasarkan penyebabnya, inflasi dapat dibedakan atas inflasi karena kenaikan permintaan dan inflasi karena biaya produksi 
1)      Inflasi karena kenaikan permintaan : Kenaikan permintaan terkadang tidak dapat dipenuhi produsen. Oleh karena itu, harga-harga cenderung naik. Hal ini sesuai dengan hukum ekonomi "jika permintaan naik sedangkan penawaran tetap, maka harga cenderung naik.
2)      Inflasi karena kenaikan biaya produksi : Kenaikan biaya produksi mengakibatkan harga penawaran barang naik, sehingga dapat menimbulkan inflasi.
2.      Penyebab Terjadinya Inflasi
Inflasi disebabkan oleh kenaikan permintaan dan kenaikan biaya produksi. Penjelasan lebih lanjut untuk kedua penyebab inflasi tersebut adalah sebagai berikut :
A.)   Inflasi karena kenaikan permintaan (Demand Pull Inflation).
Inflasi seperti ini terjadi karena adanya kenaikan permintaan untuk beberapa jenis barang. Dalam hal ini, permintaan masyarakat meningkatkan secara agregat (aggregate demand). Peningkatan permintaan ini dapat terjadi karena peningkatan belanja pada pemerintah, peningkatan permintaan akan barang untuk diekspor, dan peningkatan permintaan barang bagi kebutuhan swasta. Kenaikan permintaan masyarakat (aggregate demand) ini mengakibatkan harga-harga naik karena penawaran tetap.
B.)   Inflasi karena biaya produksi (Cos Pull Inflation).
Inflasi seperti ini terjadi karena adanya kenaikan biaya produksi. Kenaikan pada biaya produksi terjadi akibat karena kenaikan harga-harga bahan baku, misalnya karena keberhasilan serikat buruh dalam menaikkan upah atau karena kenaikan harga bahan bakar minyak. Kenaikan biaya produksi mengakibatkan harga naik dan terjadilah inflasi. 
C.)   Inflasi karena jumlah uang yang beredar bertambah.
Teori ini diajukan oleh kaum klasik yang mengatakan bahwa ada hubungan antara jumlah uang yang beredar dan harga-harga. Bila jumlah barang itu tetap, sedangkan uang beredar bertambah dua kali lipat maka harga akan naik dua kali lipat. Penambahan jumlah uang yang beredar dapat terjadi misalnya kalau pemerintah memakai sistem anggaran defisit. Kekurangan anggaran ditutup dengan melakukan pencetakan uang baru yang mengakibatkan harga-harga naik.
3.      Kebijakan Moneter Mengatasi Inflasi
A.)   Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation), Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang.
B.)   Fasilitas Diskonto (Discount Rate), Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah duit yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum terkadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang.
C.)   Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio), Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio.
D.)   Himbauan Moral (Moral Persuasion), Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian.
4.      Tujuan Kebijakan Moneter
A.)   Menjaga kestabilan ekonomi, artinya pertumbuhan arus barang dan jasa seimbang dengan pertumbuhan arus barang dan jasa yang tersedia.
B.)   Menjaga kestabilan harga, artinya harga suatu barang merupakan hasil interaksi antara jumlah uang yang beredar dengan jumlah uang yang tersedia di pasar
C.)   Mengedarkan mata uang sebagai alat pertukaran (medium of exchange) dalam perekonomian.
D.)   Mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan likuiditas perekonomian dan stabilitas tingkat harga.
E.)    Distribusi likuiditas yang optimal dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi yang diinginkan pada berbagai sektor ekonomi.
F.)    Membantu pemerintah melaksanakan kewajibannya yang tidak dapat terealisasi melalui sumber penerimaan yang normal.
G.)   Meningkatkan kesempatan kerja. Pada saat perekonomian stabil, pengusaha akan mengadakan investasi untuk menambah jumlah barang dan jasa sehingga adanya investasi akan membuka lapangan kerja baru sehingga memperluas kesempatan kerja masyarakat.
H.)   Memperbaiki neraca perdagangan kerja masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan meningkatkan ekspor dan mengurangi impor dari luar negeri yang masuk ke dalam negeri atau sebaliknya.
5.      Peran dan Fungsi Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter memiliki peran dan fungsi. Adapun peran dan fungsi kebijakan moneter adalah sebagai berikut :
A.)   Peran Kebijakan Moneter
1.)    Mempertahankan iklim investasi. Dengan tingkat inflasi yang rendah, maka iklim investasi akan tetap hidup. Jika inflasi rendah, suku bunga bank juga cenderung rendah. Rendahnya suku bunga bank akan mendorong orang untuk melakukan investasi atau usaha baru.
2.)    Memperluas kesempatan kerja. Kebijakan moneter dapat menciptakan iklim kondusif bagi berlangsungnya berbagai kegiatan ekonomi. Setiap kegiatan ekonomi membutuhkan tenaga kerja. Adanya kegiatan ekonomi berarti pula memperluas kesempatan kerja.
3.)    Menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Keadaan ekonomi yang kondusif memungkinkan terjadinya pertumbuhan ekonomi. Adanya kestabilan nilai kurs mata uang serta kestabilan harga barang dan jasa sangat dibutuhkan para investor atau pengusaha dalam menjalankan kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi yang berjalan baik menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
4.)    Memperbaiki kondisi neraca pembayaran. Neraca pembayaran nasional dikatakan baik jika mengalami surplus atau nilai ekspor melebih nilai impor. Untuk mencapai kondisi tersebut, kebijakan moneter yang terkait dengan mata uang atau nilai kurs sangat diperlukan. Kebijakan moneter dapat mempertahankan stabilitas kurs maupun menurunkan ke tingkat yang diinginkan. Dengan suatu tingkat kurs tertentu, diharapkan barang-barang produksi dalam negeri akan bisa lebih murah dibanding produk dari negara lain. Kondisi ini meningkatkan daya saing produk dalam negeri sehingga pada akhirnya akan memperbesar volume ekspor (menciptakan neraca pembayaran yang surplus).
5.)    Menjaga kestabilan nilai kurs mata uang. Untuk menjaga agar nilai kurs mata uang stabil sesuai yang diharapkan, maka Bank Indonesia melakukan kebijakan moneter berupa operasi pasar terbuka. Dalam keadaan apabila nilai kurs mata uang rupiah merosot tajam dibanding dollar Amerika Serikat, maka Bank Indonesia melakukan intervensi pasar dengan menjual dollar.
6.)    Menjaga kestabilan harga barang dan jasa. Masyarakat membutuhkan keadaan dimana harga barang dan jasa tetap stabil sehingga dapat menjalankan usahanya. Untuk menciptakan keadaan seperti itu, maka Bank Indonesia dapat melakukan kebijakan moneter berupa menaikkan atau menurunkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Tujuan kebijakan ini adalah untuk menurunkan atau menaikkan jumlah uang yang beredar (JUB). Apabila harga barang dan jasa naik terus-menerus (tidak stabil) maka Bank Indonesia menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia agar jumlah uang yang beredar berkurang sehingga laju kenaikan harga barang dan jasa dapat dikurangi.
7.)    Menurunkan laju inflasi. Apabila terjadi inflasi yang tinggi, Bank Indonesia dapat melakukan kebijakan moneter untuk menurunkan jumlah uang yang beredar (JUB). Untuk menurunkan jumlah uang yang beredar, kebijakan moneter yang diambil dapat berupa menaikkan atau menurunkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau pun dengan kebijakan moneter lainnya yaitu reserve requirements. Untuk menurunkan laju inflasi berarti jumlah uang yang beredar harus dikurangi. Untuk itu, dengan kebijakan reserve requirements, Bank Indonesia menetapkan kenaikan cadangan minimum dari bank-bank umum.
B.)   Fungsi Kebijakan Moneter
1.)    Kebijakan moneter berfungsi sebagai instrumen/cara untuk mempengaruhi perekonomian. Kebijakan moneter sebagai sebuah cara, dipergunakan untuk mencapai tujuan/sasaran ekonomi yang diharapkan, di antaranya adalah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, mengatasi pengangguran, memperbaiki neraca pembayaran yang defisit, dan menjaga stabilitas nilai uang.


KESIMPULAN
Inflasi adalah suatu keadaan perekonomian dimana harga-harga secara umum mengalami kenaikan dalam waktu yang panjang. Inflasi secara umum dapat terjadi karena jumlah uang beredar lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Inflasi merupakan suatu gejala ekonomi yang tidak pernah dapat dihilangkan dengan tuntas. Usaha-usaha yang dilakukan biasanya hanya sampai sebatas mengurangi dan mengendalikannya. Tindakan yang dapat diambil untuk mengatasi inflasi dapat berupa salah satunya adalah kebijakan moneter.


DAFTAR PUSTAKA
Natsir. M. 2009. Analisis Empiris Efektivitas Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Di Indonesia Melalui Jalur Ekspektasi Inflasi Periode 1990:2-2007:1. Dalam jurnal dinamika vol. 13, no. 3, 3 September 2009:288-307.

Anonim. 2015. Kebijakan Moneter dan Kebijakan Fiskal.

Bella. Alvernathea. 2012. Bagaimana Cara Kebijakan Moneter Mengatasau Inflasi.

Ismiyati. Tri. 2017. Kebijakan Moneter dan Kebijakan Fiskal.

Riessfelt. 2016. Makalah Inflasi dan Kebijakan Moneter.


Macam - Macam Pengangguran

Oleh: Hariadi Adha Putra Rieswanto
@B26-Hariadi 

Pengangguran atau yang bisa disebut sebagai tuna karya adalah sebutan bagi orang yang tidak bekerja sama sekali, dalam proses mencari pekerjaan, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran ini umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran dapat menjadi masalah dalam

INDEKS HARGA (Pengertian, Ciri - ciri, dan Metode Pengukuran)

 @A10-Rona

   Oleh : Rona Tasya Oktaviani
              41616010023










ABSTRAK
Indeks harga adalah angka yang di harapkan dapat di pakai untuk menunjukkan perubahan mengenai harga-harga,baik harga untuk semacam maupun beberapa macam barang dalam waktu dan tempat yang sama atau berlainan.  Indeks harga sangat dibutuhkan oleh beberapa pihak, baik perusahaan, pemerintah, maupun akademisi sehingga Indeks harga  memiliki peranan yang sangat penting dalam perekonomian, seperti sebagai petunjuk kondisi perekonomian secara umum atau digunakan sebagai pedoman bagi pembelian barang.
Berbicara mengenai indeks harga maka kita akan berbicara tentang perekonomian. Dari masa ke masa, perekonomian berjalan fluktuatif, naik turun atau maju mundur. Ada masanya produksi bisa meningkat, tetapi disaat tertentu juga terjadi penurunan. Begitupun dengan keuntungan perusahaan, harga barang dan biaya hidup atau pendapatan nasional. Untuk melakukan sebuah perbandingan antar variabel yang sama dalam kurun 2 (dua) waktu yang berbeda maka dibutuhkan angka indeks. Lewat angka indeks tersebut kita bisa mengetahui pergerakan perekonomian berupa naik turunnya pendapatan, harga dan sebagainya.
Adapun salah satu masalah makro ekonomi yang sangat penting dan hampir ditemukan pada setiap negara di dunia, yaitu Inflasi. Mengingat pentingnya Inflasi dalam suatu perekonomian menjadi penting bagi para pengambil kebijakan makro ekonomi. Inflasi adalah gejala kenaikan tingkat harga umum dari barang atau jasa serta faktor – faktor produksi secara terus menerus. Kebalikan dari inflasi adalah deflasi. Deflasi adalah suatu proses atau peristiwa penurunan tingkat harga secara umum.
Kata Kunci      : Indeks Harga, perekonomian, inflasi

Sabtu, 03 Juni 2017

PENGARUH LAPANGAN KERJA TERHADAP PENGANGGURAN DI JAKARTA

@B27-Indah

Oleh: Indah Puspa Murni

Abstrak
Ketersediaan tenaga kerja diindonesia sangatlah banyak. Semakin meningkatnya ketersedian tenagakerja di indonesia membuat lapangan kerja justru semakin menurun. Penurunan jumlah lapangan kerja di Indonesia membuat indonesia mengalami permasalahan dalam kemajuan perekonomian di Indonesia. Banyak faktor yang mempengaruhi pengangguran meningkat salah satunya berupa inflasi. Banyak tenaga kerja yang berpenghasilan minim namun sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga mereka mencari pekerjaan sampingan yang terkadang tidak focus untuk mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dan berakhir pemecatan. Oleh karena itu artikel ini di buat untuk memberikan informasi seberapa besar jumlah pengangguran di Indonesia sehingga membuat pemerintah sadar penuh untuk melakukan sebuah tidakan untuk menguranginya.

Keyword: Pengangguran di Jakarta, Pengangguran di Indonesia. Penangguran, Lapangan Pekerjaan, Tenang Kerja.

A. PENDAHULUAN
Di Jakarta, pengangguran merupakan salah satu masalah yang kompleks. Tingginya angka pengangguran di Jakarta selalu menjadi buah bibir di tingkat nasional. Pasalnya, Jakarta adalah Ibukota Indonesia yang merupakan simbol dari perekonomian di Indonesia. meskipun demikian, Jakarta tetap menjadi pilihan para kaum urban untuk mencari peruntungan di Ibukota. Tentu hal ini berdampak pada meningkatnya angka pengangguran di Jakata.

B. PERMASALAHAN 
  1. Pengertian Pengangguran?
  2. Faktor Pengangguran di Jakarta?
  3. Data Jumlah Pengangguran di Jakarta?
  4. Dampak Pengangguran di Jakarta?
  5. Upaya Pemerintah Dalam Mengurangi Pengangguran di Jakarta?
C. PEMBAHASAN
1. Mengenal Pengangguran
Pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 sampai 64 tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya. Contoh dari pengangguran seperti ibu rumah tangga, siswa sekolah smp, sma, mahasiswa perguruan tinggi, dan lain sebagainya yang karena sesuatu hal tidak/belum membutuhkan pekerjaan.

2. Faktor Pengangguran di Jakarta
                a.      Ijazah dijadikan alat legalitas
                      Pendidikan tidak menjamin untuk mendapatkan pekerjaan. Pendidikan di sebagian banyak masyarakat Indonesia bahkan hanya menjadi gengsi semata. Orientasi para pelajar saat ini bukanlah tertuju pada ilmu yang didapatkan, melainkan pada pekerjaan apa yang ia dapat setelah lulus. Tentu ini sangat berbahaya jika mainset para pelajar di Indonesia sangatlah menyimpang.  kemampuan akademik disini tidaklah cukup untuk bersaing. Merekalah yang memiliki skill khusus yang biasanya ditarik oleh perusahaan perusahaan penyedia lapangan pekerjaan. 

b.   Sedikitnya Lapangan Kerja di Jakarta.
                  Semakin meningkatnya ketersedian tenagakerja di indonesia membuat lapangan kerja justru semakin menurun. Penurunan jumlah lapangan kerja di Indonesia membuat indonesia mengalami permasalahan dalam kemajuan perekonomian di Indonesia.

c.      Malas dalam mencari lowongan pekerjaan.
                    Hal ini merupakan hal yang paling mutlak berada pada diri manusia. MALAS adalah penyakit yang sangat sulit untuk disembuhkan apabila orang tersebut tidak memiliki kemauan untuk memperbaiki diri. Malas mencari pekerjaan sama aja menjatuhkan diri pada kemiskinan. Dan malah membuat tingkat kemiskinan di Indonesia khususnya Jakarta terus meningkat.

 d.      Kepadatan penduduk.
                     Kepadatan penduduk membuat lapangan kerja terus berkurang. Artinya lapangan kerja yang sempit sudah tidak bisa lagi menamupung ribuan para pelamar kerja yang terus meningkat setiap tahunnya bahkan tiap bulan. Banyak masyarakat di luar daerah Jakarta yang terus berdatangan untuk mencari penghasilan lebih besar dibandingkan di desanya.
                     
                      Ternyata hal itu adalah hal yang salah karena dalam mencari penghasilan tidak perlu pindah ketempat lapangan kerja yang minim. Justru seharusnya mereka yang berasal dari luar Jakarta mengembangkan daerahnya menjadi lebih maju dengan begitu penghasilan bisa didapat didaerahnya tanpa harus berpindah ke Jakarta yang justru sekarang sangat sulit mencari pekerjaan.

3. Data Pengangguran Di Jakarta
Berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS) Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi DKI Jakarta pada Februari 2016 sebesar 5,77 persen, mengalami penurunan 2,59 poin dibandingkan keadaan Februari 2015 (8,36 persen). Secara absolut jumlah pencari kerja atau penganggur mengalami penurunan sebesar 157,68 ribu orang, dari 463,91 ribu orang pada Februari 2015 menjadi 306,23 ribu orang pada Februari 2016.

4. Dampak Pengangguran Di Jakarta
     a.      Meningkatnya Kemiskinan
        Dengan menganggur, tentunya seseorang tidak akan bisa memperoleh penghasilan. Bagaimana mungkin ia bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Seseorang dikatakan miskin apabila pendapatan perharinya dibawah. Rp 7.500 perharinya (berdasarkan standar Indonesia) sementar berdasarkan standar kemiskinan PBB yaitu pendapatan perharinya di bawah $2 (sekitar Rp 17.400 apabila $1=Rp 8.700).

      b.      Terjadinya kekacauan sosial dan politik
             Terjadinya demonstrasi dan perebutan kekuasaan.

      c.      Terganggunya kondisi psikis seseorang.
        Misalnya, terjadi pembunuhan akibat masalah ekonomi, terjadi pencurian dan perampokan akibat masalah ekonomi, rendahnya tingkat kesehatan dan gizi masyarakat, kasus anak-anak terkena busung lapar.

5. Upaya Pemerintah Dalam Mengurangi Angka Pengangguran di Jakarta.
Tindakan pemerintah dalam mengatasi pengangguran:
  • Mengurangi pajak mendorong lebih banyak investasi membari subsidi
  • Meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat
  • Memperbaiki pembagian pendapatan
  • Menghindari masalah kejahatan
  • Menambah keterampilan masyarakat

D. KESIMPULAN
Di Jakarta, pengangguran merupakan salah satu masalah yang kompleks. Tingginya angka pengangguran di Jakarta selalu menjadi buah bibir di tingkat nasional. Pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 sampai 64 tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya.

E. DAFTAR PUSTAKA
Nurahman. 2011. Masalah Pengangguran Di Jakarta. Tersedia: http://penakuasaberkarya.blogspot.co.id/2011/07/masalah-pengangguran-di-jakarta.html. Diaskes: 31 Juli 2011.


Rivaldo, Tomy. 2017. Tingkat Pengangguran di DKI Jakarta Melebihi Tingkat Pengangguran Nasional. Tersedia: http://www.kompasiana.com/rivaldotomy/tingkat-pengangguran-di-dki-jakarta-melebihi-tingkat-pengangguran-nasional_5930d615357b61c3236309cd. Diakses: 2 Juni 2017.

Gandani, Isti. 2012. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Pengangguran. Tersedia: http://ceritamahasiswi.blogspot.co.id/2012/10/faktor-faktor-penyebab-terjadinya.html. Diakses: 15 Oktober 2012.

Berita Resmi Statistika. 2016. Keadaan Ketenagakerjaan Di Dki Jakarta Februari 2016. Tersedia: https://jakarta.bps.go.id/backend/brs_ind/brsInd-20160510080308.pdf. Diakses 4 Mei 2016.

Jie, Derry. 2013.  Makalah : Dampak Pengangguran Di Indonesia. Tersedia: http://derryjie.blogspot.co.id/2013/11/makalah-dampak-pengangguran-di-indonesia.html. Diakses: 2013.