.

Senin, 17 April 2017

Perekonomian Di Maluku Utara

@B34- Fauzi
Oleh: Muhammat Fauzi

Perekonomian Maluku Utara



Provinsi Maluku Utara merupakan daerah hasil pemekaran dari Provinsi Maluku yang resmi berpisah pada tanggal 12 Oktober 1999. Provinsi Maluku Utara berada diantara 3º Lintang Utara sampai 3º Lintang Selatan dan 124º – 129º Bujur Timur. Provinsi Maluku Utara merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari 805 buah pulau besar dan kecil, sekitar 82 pulau yang dihuni dan 723 pulau yang belum dihuni.
Luas wilayah Provinsi Maluku Utara 145.801,10 km2, terdiri dari luas lautan 113.796,53 km2 atau 69,08 persen dan luas daratan 32.004,57 km 2 atau 30,92 persen.
Pergerakan perekonomian daerah di Maluku Utara sebagian besar bersumber dari perekonomian rakyat yang bertumpu pada sektor pertanian, perikanan dan jenis hasil laut lainnya. Komoditas utama yang mendukung nadi perekonomian di Maluku Utara meliputi:
  1. Kopra
  2. Buah Pala
  3. Cengkeh
  4. Perikanan, yang sebagian telah diekspor ke Jepang
  5. Emas
  6. Nikel, yang sebagian telah diekspor ke Jepang
Tingkat Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara Membaik
Ternate (Antara Maluku) - Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku Utara (Malut), pada triwulan II 2013 sebesar 6,3 persen, melebihi pertumbuhan ekonomi nasional 5,8 persen..
Pertumbuhan ekonomi masih disumbang besar dari sektor pertambangan, sementara sektor lain terus memberikan sumbangan bagi pertumbuhan ekonomi, namun belum terlalu signifikan.
Pada 2011 inflasi terjadi sebesar 4,57 persen, sementara secara tahunan inflasi pada Juli 2013 tercatat sebesar 7,68 persen dengan faktor penyebab terbesar adalah dampak lanjutan naiknya harga BBM, permintaan selama Ramadhan dan Idul Fitri serta kondisi cuaca yang menghambat distribusi barang dan jasa.
Ekonomi Kreatif  Kunci Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara
Ekonomi kreatif merupakan aktivitas ekonomi yang dihasilkan sebagai output dari daya pikir, kreativitas, ide yang bersifat inovatif dan mengelaborasikannya dengan kemajuan teknologi informasi. Begitu ketatnya persaingan ekonomi di antara negara-negara maju dan berkembang saat ini, ekonomi kreatif berada pada posisi kunci, terutama bagi Indonesia.
Ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang didukung dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang memadai, program ekonomi kreatif sangat potensial untuk dikembangkan di seluruh wilayah Indonesia. Seperti halnya bila ekonomi kreatif dikembangkan di wilayah Maluku Utara, pengembangan ekonomi kreatif hingga kini terus dilanjutkan oleh pemerintah. Mengingat pula pertumbuhan ekonomi Maluku Utara juga semakin membaik dan menunjukkan kualitasnya. Menurut data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Utara, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara tahun 2015 adalah sebesar 6,10 persen. Kondisi ini terlihat lebih baik daripada tahun 2014 yang hanya sebesar 5,48 persen.

Ekonomi Malut tahun 2015 tumbuh 6,10 persen, meningkat dibandingkan tahun 2014 sebesar 5,48 persen
Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Utara (Malut) mencatat ekonomi daerah ini tumbuh 6,10 Persen, yang berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 26.631,6 miliar.

"Ekonomi Malut tahun 2015 tumbuh 6,10 persen, meningkat dibandingkan tahun 2014 sebesar 5,48 persen," kata Kepala BPS Provinsi Malut, Misfaruddin, di Ternate.
"Struktur perekonomian Malut menurut lapangan usaha tahun 2015 didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (24,84 persen). Perda- gangan Besar-Eceran, Reparasi Mobil-Sepeda Motor (17,38 persen) dan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib (17,09 persen),"
Selain itu, ekonomi Malut pada triwulan IV-2015 tumbuh sebesar 6,05 persen bila dibandingkan triwulan IV-2015 (y-on-y).

Pertumbuhan didukung oleh seluruh lapangan usaha.

Konstruksi merupakan lapangan usaha yang memiliki pertumbuhan tertinggi sebesar 13,13 persen, diikuti Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar sebesar 13,04 persen dan Jasa Pendidikan sebesar 12,21 persen.

"Struktur perekonomian Malut pada triwulan IV-2015 didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (23,96 persen), Adminstrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib (18,53 persen) dan Perdagangan Besar-Eceran dan Reparasi Mobil-Sepeda Motor (17,31 persen),"
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2016 tercatat sebesar 6,54% (yoy) lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,61% (yoy). Dari sisi permintaan, akselerasi pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2016 bersumber dari terjaganya tingkat konsumsi masyarakat dan adanya perbaikan perdagangan luar negeri Maluku Utara pada triwulan tersebut. Namun demikian, kontraksi konsumsi pemerintah dan perlambatan konsumsi rumah tangga masih membayangi pertumbuhan tersebut. Sementara itu dari sisi penawaran, akselerasi pertumbuhan sektor pertanian, pertambangan, dan perdagangan besar dan eceran menjadi motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2016. Kestabilan harga-harga produk pertanian menjaga pendapatan petani dari subsektor tabama dan hortikultura pada level yang baik. Selain itu, peningkatan permintaan produk rempah-rempah dan kopra dari Jawa Timur menyebabkan pendapatan dari subsektor tanaman perkebunan tersebut pada level yang tinggi.
HAMBATAN PEMBANGUNAN MALUKU UTARA
Kendala
Upaya pembangunan daerah di Propinsi Maluku dihadapkan kepada berbagai kendala yang erat kaitannya dengan kondisi geografis dengan karakteristik wilayah yang kurang menguntung­kan, antara lain karakteristik fisik wilayah yang terdiri atas ratusan pulau besar dan kecil yang dipisahkan oleh perairan laut dalam yang luas, keterpencaran lokasi (jarak), keterbatasan areal lahan yang dapat dibudidayakan, dan adanya beberapa kawasan rawan bencana alam, terutama letusan gunung api yang menjadi kendala bagi pengembangan kegiatan produktif serta bagi pengembangan prasarana dan sarana dasar pembangunan, khususnya sistem transportasi. 

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PEMBANGUNAN DAERAH
a.           Pelaksanaan Otonomi di Daerah
Dalam rangka memperkukuh negara kesatuan serta memper­lancar penyelenggaraan pembangunan nasional, kemampuan pelak­sanaan pemerintahan di daerah tingkat I dan daerah tingkat II Propinsi Maluku, terutama dalam penyelenggaraan tugas desentra­lisasi, dekonsentrasi, dan pembantuan ditingkatkan agar makin mewujudkan otonomi yang nyata, dinamis, serasi, dan bertanggung jawab.
b.          Pengembangan Sektor Unggulan
Dalam upaya mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan, kebijaksanaan pembangunan ekonomi daerah dalam Repelita VI diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor unggulan yang diprioritaskan di Propinsi Maluku. Pembangunan pertanian dan industri serta sektor produktif lainnya akan ditingkatkan dan diarahkan untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.
c.     Pengembangan Usaha Nasional
Pengembangan usaha nasional yang meliputi usaha menengah dan kecil, koperasi, badan usaha milik negara (BUMN) dan badan usaha milik daerah (BUMD), serta usaha swasta diarahkan agar mampu tumbuh menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi daerah, serta memperluas kesempatan usaha dan lapangan kerja menuju terwujudnya perekonomian daerah yang tangguh dan mandiri.
d.   Pengembangan Sumber Daya Manusia 
Pengembangan sumber daya manusia di Propinsi Maluku diarahkan untuk mewujudkan manusia berakhlak, beriman, dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan menanamkan sejak dini nilai-nilai agama dan moral, serta nilai-nilai luhur budaya bangsa, baik melalui jalur pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah, serta pendidikan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Demikian pula, pengembangan sumber daya manusia diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan pendidikan, melalui peningkatan kualitas pendidikan umum, pendidikan kejuruan, maupun pendidikan agama, serta pelayanan kesehatan dan sosial kepada masyarakat melalui peningkatan ketersediaan dan sebaran prasarana dan sarana dasar secara makin berkualitas dan merata.
e.     Kependudukan
Kebijaksanaan di bidang kependudukan di Daerah Tingkat I Maluku diarahkan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk di daerah yang mempunyai kepadatan dan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, serta mengarahkan persebaran penduduk yang lebih merata terutama ke daerah jarang penduduk, dengan memperhatikan kemampuan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan hidup.
     f.     Pengembangan Prasarana dan Sarana Ekonomi
Pengembangan prasarana dan sarana ekonomi, khususnya transportasi, di Daerah Tingkat I Maluku diarahkan untuk meningkatkan ketersediaan, efisiensi pemanfaatan, kualitas pelayanan, keterjangkauan pelayanan, dan efektivitas operasi dan pemeliharaan berbagai prasarana dan sarana ekonomi tersebut. Dalam Repelita VI sistem transportasi dikembangkan secara lebih luas dan terpadu terutama dengan mengembangkan pengembangan transportasi antarmoda dan antarpulau yang efisien, yang dapat menjangkau pula daerah terisolasi dan terbelakang.
h.     Pengembangan Kawasan Andalan
Kawasan andalan dikembangkan secara terencana dan terpadu dengan memperhatikan rencana tata ruang daerah, keterkaitan kota dengan daerah penyangganya, pertumbuhan penduduk, pengelolaan dan pembangunan lingkungan permukiman, lingkungan usaha, dan lingkungan kerja.


Daftar Pustaka
-       Anonim. 2017. Potensi di Tiap KabKota Provinsi Maluku Utara. Bkpmprovmalut. Maluku Utara.
-       Anonim. 2017. Profil Provinsi Maluku Utara. Bpkp. Jakarta.
-       Ade Nursiyono, Joko. 2016. Ekonomi Kreatif Kunci Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara. Kompasmania. Indonesia.
-       Fatah, Abdul. 2013. Tingkat Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara Membaik. Antaramaluku. Maluku.
-       Burhani, Ruslan. 2016. Ekonomi Maluku Utara Tumbuh 610 Persen. Antaranews. Indonesia.
-       Anonim. 2017. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Maluku Utara Februari 2017. Bankindonesia. Indonesia.
-       Hikmaningtyas. 2011. Perkembangan Ekonomi. Anonim. Indonesia,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar