Tampilkan postingan dengan label Z25-Nur Afni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Z25-Nur Afni. Tampilkan semua postingan
Senin, 13 Juni 2016
Analisa Kebijakan Moneter dan Fiskal
Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter adalah proses
mengatur persediaan uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu; seperti
menahan inflasi, dan mendorong usaha pembangunan nasional. Kebijakan moneter
pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencapai
keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga,
pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca
pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi
ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta
neraca pembayaran internasional yang seimbang.
Kebijakan moneter dapat dilakukan oleh pemerintah dan
Bank Sentral dengan cara langsung atau tidak langsung.
·
Kebijakan
moneter langsung yaitu pemerintah langsung campur tangan dalam hal peredaran
uang atau kredit perbankan.
·
Kebijakan
moneter tidak langsung dilakukan oleh Bank sentral dengan cara mempengaruhi
kemampuan bank-bank umum dalam memberikan kredit.
Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat
diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan
moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
·
Kebijakan
Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy Adalah suatu kebijakan dalam
rangka menambah jumlah uang yang edar
·
Kebijakan
Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy
Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah
uang yang edar. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy)
Jenis –
jenis Kebijaksanaan Moneter
1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)
Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang
yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government
securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli
surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin jumlah uang yang beredar
berkurang, maka pemerintah akan menjual surat berharga pemerintah kepada
masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau
singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat
Berharga Pasar Uang.
2. Fasilitas Diskonto (Discount Rate)
Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah uang yang
beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Untuk
membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank
sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang
beredar berkurang.
3. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)
Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang
beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan
pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio
cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan
rasio.
4. Himbauan Moral (Moral Persuasion)
Himbauan moral adalah kebijakan
moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada
pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk
berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan
menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak
jumlah uang beredar pada perekonomian.
Kebijakan Fiskal
Kebijakan
fiskal adalah
kebijakan yang dibuat pemerintah untuk mengarahkan ekonomi suatu negara melalui
pengeluaran dan pendapatan (berupa pajak) pemerintah. Kebijakan fiskal berbeda
dengan kebijakan moneter, yang bertujuan men-stabilkan perekonomian dengan cara
mengontrol tingkat bunga dan jumlah uang yang beredar. Instrumen utama
kebijakan fiskal adalah pengeluaran dan pajak. Perubahan tingkat dan komposisi
pajak dan pengeluaran pemerintah dapat memengaruhi variabel-variabel berikut:
·
Permintaan
agregat dan tingkat aktivitas ekonomi
·
Pola
persebaran sumber daya
·
Distribusi
pendapatan
Dengan
kebijaksanaan fiskalnya pemerintah dapat mengusahakan terhindarnya perekonomian
dari keadaan-keadaan yang tidak diinginkan seperti keadaan dimana banyak
pengangguran , inflasi , neraca pembayaran internasionla yang terus menerus
defisit dan sebagainya. Ada analisis
yang dipakai dalam kebijakan fiskal
1.
Analisis kebijaksanaan fiskal dalam sistem perpajakan yang sederhana.
Dengan adanya tindakan
fiskal pemerintah, pengeluaran masyarakata untuk konsumsi tidak lagi secara
langsung ditentukan oleh tinggi rendahnya pendapatan nasional, akan tetapi oleh
tinggi rendahnya pendapatan yang siap untuk di belanjakan atau disposable
income
2.
Analisis kebijaksanaan fiskal dalam system perpajakan yang Built-in
Flexible
Yang dimaksud dengan system
perpajakan yang built-in flexible adalah system pemungutan pajak pendapatan,
maksudnya adalah untuk meratakan
distribusi pendapatan agar tidak terjadi ketegangan – ketegangan social.
Dikatakan flexible karena mengikuti pendapatan, apabila pendapatan besar maka
jumlah pajak yang di bayar besar dan begitu sebaliknya.
Efektivitas
Kebijakan Fiskal
Kebijakan
fiskal dikatakan efektif bila mampu mengubah tingkat bunga (r) atau output
sesuai dengan yang diinginkan pemeritah. Pengaruh kebijakan fiskal terhadap
output keseimbangan, pertama-tama terjadi melalui pengaruh terhadap
keseimbangan pasar dan jasa.
1.
Dampak kebijakan
fiskal terhadap keseimbangan pasar barang – jasa
Dampak kebijakan fiskal terhadap keseimbangan pasar
barang dan jasa telah dijelaskan secara matematis dalam bagian sebelumnya
2.
Dampak kebijakan
fiskal ekspansif terhadap inflasi
Jika tambahan pengeluaran pemerintah akan
menghasilkan tambahan output keseimbangan yang beberapa kali lipat, bukankah
lebih baik pemerintah terus-menerus meningkatkan anggaran? Baru bener bila di
dalam perekonomian hanya terdiri atas pasar barang dan jasa.
Sumber :
Prathama Rahardja & Mandala Manurung. 2008. Pengantar Ilmu Ekonomi: Mikroekonomi & Makroekonomi Jakarta: FE Universitas Indonesia.
Senin, 06 Juni 2016
Keterkaitan Inflasi dengan Pengangguran
KETERKAITAN INFLASI DENGAN PENGANGGURAN
Teori inflasi, A.W. Phillips berhasil
menemukan hubungan yang erat antara tingkat pengangguran dengan tingkat
perubahan upah nominal. Penemunannya ini diperolehnya dari hasil pengolahan
data empirik perekonomian inggris untuk periode 1861-1957. Kurva yang
menggambarkan hubungan di antara tingkat inflasi dan tingkat pengangguran
dinamakan kurva Phillips. Kurva phillips yang menghubungkan persentase
perubahan tingkat upah nominal dengan tingkat pengangguran seperti diuraikan di
atas biasa disebut dengan kurva phillips dalam bentuk asli. Di samping itu, ada
juga kurva phillips dalam bentuk versi baru yang biasa disebut dengan kurva
phillips yang sudah direvisi yang digunakan untuk mengukur tingkat inflasi
Argumentasi untuk menjelaskan kurva
phillips di atas dirumuskan dengan formulasi sebagai berikut :
Laju inflasi = Tingkat kenaikan upah – Tingkat
kenaikan produktivitas
Sifat keterkaitan di antara inflasi harga dan tingkat
pengangguran :
Pada waktu pengangguran tinggi, kenaikan
harga-harga relative lambat, akan tetapi semakin rendah pengangguran, semakin
tinggi tingkat inflasi yang berlaku.
Dari kurva phillips dapat diambil
kesimpulan bahwa semakin tinggi tingkat pengangguran semakin cepat kenaikan
tingkat upah dan harga; dan semakin tinggi harapan inflasi akan semakin cepat
pula kenaikan tingkat upah .
Jadi, di teori ekonomi makro, ada
perdebatan klasik masalah inflasi dan pengangguran yang dikenal luas dengan
Kurva Phillips (yang sebetulnya belum terbukti salah dan benar secara umum di
semua ekonomi/negara),.
Kurva tersebut menggambarkan adanya
hubungan negatif antara laju inflasi dengan pengangguran: Laju inflasi tinggi,
pengangguran rendah (dan output tinggi). Akan tetapi kebalikannya juga justru
dapat terjadi yakni kenaikan harga-harga secara umum, yang dilihat dari laju
inflasi akan menurunkan output (produksi nasional) dan dengan sendirinya
meningkatkan pengangguran. Hubungan inflasi, output dan pengangguran (tiga hal
yang sangat sentral dalam kebijakan makroekonomi) sangat ditentukan oleh
aggregat penawaran dan permintaan terhadap barang-barang dan jasa-jasa. Apabila
aggregat permintaan meningkat, permintaan terhadap tenaga kerja akan meningkat
(dengan sendirinya pengangguran berkurang) dan produksi nasional juga meningkat
(dengan sendirinya pertumbuhan ekonomi meningkat). Akan tetapi, sebaliknya
kenaikan aggregat permintaan tersebut akan menaikkan harga-harga (meningkatkan
laju inflasi). Ini yang dinamakan hubungan negatif inflasi dan pengangguran. Di
tahun 50-an dan 60-an, hubungan negatif ini luas ditemukan di negeri maju
seperti Inggris dan Amerika.
Bagaimana bila terjadi penurunan dalam aggregat
penawaran terhadap barang-barang dan jasa-jasa?
·
Penurunan
penawaran dengan sendirinya berakibat pada “seolah” kenaikan dalam permintaan.
Akibatnya harga-harga meningkat (inflasi meningkat). Akan tetapi karena penawaran menurun ini
berarti permintaan terhadap tenaga kerja juga menurun yang dengan sendirinya
menurunkan produksi nasional. Akhirnya yang terjadi adalah inflasi tinggi dan
pengangguran tinggi (dan pertumbuhan ekonomi rendah). Ini yang luas terjadi di tahun 70-an ketika
terjadi resesi ekonomi global.
Menurut J.M Keyness, hubungan antara
variavel moneter dengan variabel ekonomi riil sangat kuat. Model klasik menyatakan
bahwa harga termasuk upah ditentukan oleh mekanisme pasar dan penyesuaian upah
nomial tidak ada pada periode tertentu. Model Keynessian menyatakan bahwa ada
kemungkinan kuantitas penawaran dan permintaan tenaga kerja tidak sama dan
kemungkinan yang sering terjadi adalah kelebihan penawaran tenaga kerja.
Hubungan antara tingkat harga dengan tingkat pengangguran tenaga kerja
dijelaskan oleh Kurva Phillips yang menyatakan bahwa tingkat upah nominal pada
periode tertentu dapat dijelaskan oleh tingkat pengangguran sekarang
(Manurung,2009:223).
Dari definisi ini, ada tiga komponen yang harus
dipenuhi agar dapat dikatakan telah terjadi inflasi (Rahardja dan
Manurung,2008:249):
a.
Kenaikan harga
b.
Bersifat umum
c.
Berlangsung terus
menerus
Sedangkan pengertian dari pengangguran
yang digunakan oleh Badan Pusat Statistik, antara lain pengangguran terbuka
(open unemployment) didasarkan pada konsep seluruh angkatan yang mencari
pekerjaan, baik yang mencari pekerjaan pertama kali atau yang pernah bekerja
sebelumnya. Sedangkan setengah penganggur adalah pekerja yang masih mencari
pekerjaan penuh atau sambilan dan mereka yang bekerja dengan jam kerja rendah
atau kurang dari 35 jam kerja dalam seminggu, setengah penganggur sukarela
adalah setengah penganggur tapi tidak mencari pekerjaan atau tidak bersedia
menerima pekerjaan lain (pekerja paruh waktu). Setengah penganggur terpaksa
adalah setengah penganggur yang mencari dan bersedia menerima pekerjaan.
Pekerja digolongkan setengah penganggur parah bila ia termasuk setengah menganggur
dengan jam kerja kurang dari 25 jam seminggu (Kuncoro,2006:228).
Ada suatu hubungan terbalik antara
tingkat inflasi dan tingkat pengangguran dalam suatu perekonomian. Semakin
banyak pengusaha memperluas kesempatan kerja semakin dia harus membayar dengan
faktor tertentu produksi dan pembayaran lebih banyak faktor produksi
peningkatan biaya produksi unit akan diamati dan dalam rangka mempertahankan
profitabilitas produk pengusaha akan mengembang harga produk tersebut.. Sebuah
proses serupa akan diamati di seluruh perekonomian ketika pemerintah bermaksud
untuk menciptakan pekerjaan. Harga produk atau jasa, di mana tenaga kerja
terinstal, akan meningkat sehingga kenaikan tingkat inflasi akan terlihat
melalui ekonomi luar.
Dapat disimpulkan dari penjelasan
tersebut di atas bahwa ketika pemerintah berniat untuk menurunkan menurunkan
tingkat pengangguran yang harus menanggung kenaikan tingkat inflasi dalam
perekonomian nasional.
Yang berbeda antara inflasi dan
pengangguan yaitu jumlah orang yang menganggur adalah jumlah orang di negara
yang tidak memiliki pekerjaan dan yang tersedia untuk bekerja pada tingkat upah
pasar saat ini. Ini dengan mudah dapat diubah menjadi persentase dengan
mengaitkan jumlah pengangguran, dengan jumlah orang dalam angkatan kerja.
Inflasi adalah kenaikan harga secara
umum selama 12 bulan. Ini diukur dengan mengambil rata-rata tertimbang semua
produk konsumen (tertimbang pada frquency pembelian) dan menganalisis tren
harga keseluruhan. Hal ini sering disebut Indeks Harga Konsumen (CPI) atau
Harmonised Indeks Harga Konsumen (HICP). Hal ini menunjukkan berapa banyak,
sebagai persentase, tingkat harga umum dari semua barang-barang konsumsi telah
berubah sepanjang tahun.
Source :
·
Wikipedia
·
Buku Analisis
Ekonomi untuk Bisnis
·
http://dwi-oki.blogspot.com/2012/04/hubungan-antara-pengangguran-dengan.html
·
http://disstyana.blogspot.com/2012/04/pengangguran-inflasi-dan-keterkaitannya.html
Senin, 30 Mei 2016
TEORI TENTANG SIKLUS EKONOMI
2.1 Anatomi Siklus Ekonomi
Siklus ekonomi dapat digambarkan sebagai gelombang naik-turun
aktivitas, yang terdiri atas empat elemen. Indikator yang biasa digunakan untuk
menganalisa siklus ekonomi adalah pertumbuhan ekonomi atau jumlah output riil
dan tingkat harga.
Anatomi terdiri atas 4 elemen yaitu:
a. Gerakan
menaik (Upturn atau Expansion)
Pemulihan
ekonomi ditandai dengan gerakan perekonomian yang menaik. Kadang – kadang
gerakan menaik ini disebut juga ekspansi bila gerakan menaik ini terjadi selama
minimal dua triwulan berturut – turut.
b.
Titik puncak atau kulminasi (Peak)
Ekspansi
ekonomi tidak akan terjadi selamanya, suatu ketika gerakan menaik ini mencapai
titik tertinggi. Titik ini disebut titik puncak atau kulminasi. Setelah
mencapai titik kulminasi, perekonomian akan mengalami penurunan kembali.
c. Gerakan
menurun (Downturn)
Yang
dimaksud dengan gerak menurun adalah menurunnya output yang dilihat dari
menurunnya tingkat pertumbuhan ekonomi. Kadang – kadang gerakan penurunan ini
disebut resesi, bila terjadi selama minimal dua triwulan berturut – turut.
d.
Titik terendah atau nadir (Trough)
Gerakan
menurun akan berlanjut hingga mencapai titik yang paling rendah, yang disebut
titik nadir. Setelah mencapai titik nadir, perekonomian akan pulih kembali
dilihat dari adanya gerakan menaik.
·
Gerakan Satu Siklus
Yang
dimaksud dengan gerakan satu siklus adalah gerakan dari satu titik kulminasi ke
titik kulminasi yang lain (K-K) atau dari satu titik nadir ke titik nadir yang
lain (N-N).
·
Bum (Boom)
Kadangkala
karena berbagai factor , terjadi pertumbuhan ekonomi yang begitu baik, sehingga
titik kulminasinya jauh di atas biasanya. Titik kulminasi yang jauh di atas
biasanya, dikenal sebagai bum (boom).
·
Depresi (Depression)
Penurunan
pertumbuhan ekonomi jauuh dibawah titik nadir yang biasanya. Kondisi ini
dikenal sebagai kondisi depresi.
Siklus Ekonomi dengan Indikator Pertumbuhan Ekonomi
Siklus Ekonomi dengan Indikator Output Riil
2.2 Durasi Siklus dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya
Waktu yang dibutuhkan dalam pergerakan satu siklus telah lama
menjadi pengamatan para ahli ekonomi. Mereka menemukan beberapa variasi siklus.
a.
Siklus jangka pendek (Kitchin Cycle)
Durasi
siklus jangka pendek sekitar 40 bulan. Pola siklus ini ditemukan oleh Joseph
Kitchin (1923). Itulah sebabnya siklus ini dinamakan siklus Kitchin (Kitchin
cycle). Faktor – faktor yang diduga mempengaruhi siklus jangka pendek adalah
pengaruh alamiah dan adat – istiadat atau kebiasaan.
b. Siklus
jangka menengah (Juglar Cycle)
Durasi
siklus jangka menengah adalah berkisar 7-11 tahun. Pola siklus ini pertama kali
ditemukan oleh Clement Jugalar (1860)
c.
Siklus jangka panjang (Kondratief Cycle)
Pola siklus
jangka panjang pertama kali ditemukan oleh Nikolai D. Kondratief (1925). Durasi
siklusnya berkisar 48-60 tahun.
2.3 Siklus Ekonomi, kesempatan kerja dan inflasi
a. Siklus ekonomi dan kesempatan kerja
Secara umum ada hubungan positif antara tingkat output dengan
kesempatan kerja, terutama bila analisanya jangka pendek. Sebab, dalam jangka
pendek teknologi dianggap konstan, barang modal merupakan input tetap.
Sedangkan yang dianggap variabel adalah tenaga kerja. Karenanya pengaruh siklus
sangat terasa bagi kesempatan kerja.
Berdasarkan diagram disamping ini dapat di simpulkan, yakni penurunan output (resesi) akan meningkatkan pengangguran. Sebaliknya, ekspansi akan mengurangi pengangguran. Pemerintah umumnya amat berkepentingan untuk menghindari resesi, setidaknya menghindari resesi yang berkepanjangan. Sebab resesi cenderung membawa dampak negatif bagi tersedianya kesempatan kerja.
Berdasarkan diagram disamping ini dapat di simpulkan, yakni penurunan output (resesi) akan meningkatkan pengangguran. Sebaliknya, ekspansi akan mengurangi pengangguran. Pemerintah umumnya amat berkepentingan untuk menghindari resesi, setidaknya menghindari resesi yang berkepanjangan. Sebab resesi cenderung membawa dampak negatif bagi tersedianya kesempatan kerja.
b. Siklus ekonomi dan inflasi
Jika output riil lebih kecil dari output natural , inflasi
cenderung menurun dan begitu pula sebaliknya jia output riil lebih besar dari
output natural maka inflasi cenderung meningkat. Karenanya pengaruh siklus
sangat berpengaruh terhadap inflasi.
2.4 Pengelolaan Siklus Ekonomi
Siklus
Ekonomi yang semakin stabil
Sumbu
vertikal dalam diagram ini adalah nilai output riil. Sedangkan garis lurus
adalah output natural. Pada awalnya, memang fluktuasi output sangat besar,
karena simpangan siklus selama periode T1 – T5 sangat besar. Namun karena
pengelolaan yang baik, maka simpangan dalam periode selanjutnya mengecil,
sementara ekonomi mampu mempertahankan pertumbuhan jangka panjangnya karena
output natural terus meningkat.
a. Kebijakan
jangka pendek
Target utama
jangka pendek adalah mengatasi perbedaan output riil dengan output natural.
Mengubah
kondisi output gap agar tidak terlalu besar maka dapat dilakukan dengan
kebijakan fiskal dan moneter, yang memengaruhi permintaan dan penawaran agregat
jangka pendek.
Masalah Siklus Ekonomi Jangka Pendek : Output Gap
·
Kebijakan Fiskal
Kebijakan
fiskal bertujuan menstabilkan perekonomian dengan cara mengontrol tingkat bunga
dan jumlah uang yang beredar. Instrument utama kebijakan fiskal adalah
pengeluaran dan pajak. Dengan kebijakan fiskal pemerintah dapat mengusahakan
terhindarnya perekonomian dari keadaan-keadaan yang tidak diinginkan. Seperti
keadaan dimana banyak pengangguran, inflasi, neraca pembayaran internasional
yang terus menerus defisit dan sebagainya.
·
Kebijakan Moneter
Kebijakan
moneter pada dasarnya bertujuan untuk mencapai kebijakan internal (pertumbuhan
ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan
eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi
makro, yakni menjaga stabilitas ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan
kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang.
b. Kebijakan
jangka panjang
Target yang
ingin dicapai dalam janka panjang, selain memperkecil simpangan tingkat
pertumbuhan ekonomi, juga pencapaian pertumbuhan yang tinggi. Sebab, simpangan
yang kecil tidak banyak artinya jika perekonomian bertumbuh lamban.
2.5 Krisis Ekonomi di Indonesia
Latar Belakang Krisis
Berikut ini diberikan rangkuman dari berbagai faktor tersebut
menurut urutan kejadiannya:
1) Dianutnya sistim devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memadai, memungkinkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk secara bebas berapapun jumlahnya.
1) Dianutnya sistim devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memadai, memungkinkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk secara bebas berapapun jumlahnya.
2) Tingkat depresiasi rupiah yang relatif rendah, berkisar antara
2,4% (1993) hingga 5,8% (1991) antara tahun 1988 hingga 1996, yang berada di
bawah nilai tukar nyatanya,menyebabkan nilai rupiah secara kumulatif sangat
overvalued. Ditambah dengan kenaikan pendapatan penduduk dalam nilai US dollar
yang naiknya relatif lebih cepat dari kenaikan pendapatan nyata dalam Rupiah,
dan produk dalam negeri yang makin lama makin kalah bersaing dengan produk
impor.
3) Akar dari segala permasalahan adalah utang luar negeri swasta
jangka pendek dan menengah sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan yang
berat karena tidak tersedia cukup devisa untuk membayar utang yang jatuh tempo
beserta bunganya (bandingkan juga Wessel et al.: 22), ditambah sistim perbankan
nasional yang lemah.
4) Kebijakan fiskal dan moneter tidak konsisten dalam suatu sistim
nilai tukar dengan pita batas intervensi.
5) Defisit neraca berjalan yang semakin membesar (IMF Research
Department Staff: 10; IDE), yang disebabkan karena laju peningkatan impor
barang dan jasa lebih besar dari ekspor dan melonjaknya pembayaran bunga
pinjaman. Sebab utama adalah nilai tukar rupiah yang sangat overvalued, yang
membuat harga barang-barang impor menjadi relatif murah dibandingkan dengan
produk dalam negeri.
SOLUSINYA ATAS KRISIS INDONESIA
I. Kebijakan jangka pendek Yang di ambil untuk mengatasi krisis
1) Pemulihan kepercayaan kepada perekonomian dalam negeri serta
didukung oleh perbaikan sistem distribusi dan pemulihan kapasitas produksi.
Thailand dan Korea adalah dua negara lain di samping Indonesia yang dalam waktu
hampir bersamaan mengalami krisis serta meminta bantuan IMF. Dengan pulihnya
kepercayaan, nilai tukar akan menguat karena sentimen pasar positif dan terjadi
capital inflow sehingga rupiah menguat dan tekanan inflasi mereda. Dengan
demikian, suku bunga dapat diturunkan ke tingkat yang wajar.
2) Pelaksanaan restrukturisasi perbankan sesuai jadwal akan
membantu menurukan suku bunga melalui dua mekanisme sebagai berikut, keharusan
untuk menutup bank insolven dan meningkatkan permodalan bank akan mengurangi
permintaan dana di PUAB oleh bank-bank tertentu yang secara struktural
mengalami kekurangan likuiditas.
II. Kebijakan jangka menengah-panjang
1) Kewajiban menempatkan capital inflow jangka pendek di Bank
Sentral selama satu tahun dengan persentase tertentu tanpa imbalan dapat
dipertimbangkan untuk mengurangi Pengertian kebijakan jangka menengah-panjang
ini bukan berarti kebijakan yang semuanya akan ditempuh pada jangka menengah-
panjang. Kewajiban seperti ini telah lama diterapkan di Chile dengan mengenakan
reserve requirement sebesar 30% selama satu tahun atas aliran modal masuk.
2) Pembatasan kewajiban luar negeri baik sektor pemerintah maupun
swasta terhadap kreditor luar negeri dalam berbagai bentuk baik berupa pinjaman
maupun surat-surat utang lainnya, seperti CP, MTN, dan FRN.
3) Penyesuaian struktural di sektor riil melalui deregulasi,
penghapusan monopoli, perbaikan sistem distribusi akan dapat meningkatkan
efisiensi dan mengurangi gejolak di sektor riil yang sering memicu inflasi.
Peningkatan efisiensi produsisektor pangan dengan mempertahankan terms of trade
yang lebihmenguntungkan bagi petani akan dapat meningkatkan ketahahan
perekonomian.
4) Di tingkat regional, perlu dibentuk semacam regional
surveillance untuk memelihara stabilitas kawasan mengingat bahwa krisis ekonomi
di Asia semula merupakan contagion effect dari krisis nilai tukar Thailand,
walaupun faktor domestik juga mempunyai peranan penting dalam terjadinya
krisis.
5) Di tingkat Internasional, investor internasional, seperti
institutional investor dan hedge fund yang sifatnya sangat volatile dan
cenderung memiliki sifat herd behavior, perlu ditetapkan suatu lembaga yang
mengatur kegiatan mereka agar investasinya di negara-negara berkembang dapat
bermanfaat bagi perekonomian dan bukan sebaliknya malah menimbulkan
instabilitas. Lembaga tersebut dapat,mewajibkan untuk memonitor kegiatan
invesor Internasional dan menyampaikan laporan berkala ke semua negara agar negara-negara
penerima dana senantiasa mengetahui eskposurnya terhadap investor asing.
SUMBER
Langganan:
Postingan (Atom)

